Psikologi Komunikasi Remaja Perempuan Pasca Perceraian Orang Tua : Studi Deskriptif Kualittaif tentang Psikologi Komunikasi Remaja Perempuan Pasca Perceraian Orang Tua di Kab. Garut
Cara Mengutip APA 7th
Gunakan format ini untuk referensi akademik
Nazwa, T. M., Salamah, U., & Adnan, I. Z. (2020). Psikologi Komunikasi Remaja Perempuan Pasca Perceraian Orang Tua : Studi Deskriptif Kualittaif tentang Psikologi Komunikasi Remaja Perempuan Pasca Perceraian Orang Tua di Kab. Garut [Undergraduate thesis, Universitas Garut]. https://lib.fkominfo.uniga.ac.id/thesis/cmkysvdeu02e51413fmezryzk/psikologi-komunikasi-remaja-perempuan-pasca-perceraian-orang-tua-studi-deskriptif-kualittaif-tentang-psikologi-komunikas
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan perubahan perilaku remaja perempuan broken home, perkembangan kognitif remaja perempuan broken home, serta pengaruh lingkungan dan keluarga dalam interaksi sosial mereka. Informan utama dalam penelitian ini adalah remaja perempuan dengan latar belakang keluarga broken home. Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori sosial kognitif. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipan, dokumentasi, dan studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat informan mengakui adanya perasaan malu terhadap kondisi keluarga, perasaan tidak adil atas kehidupan yang dijalani, rendahnya rasa percaya diri, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, stres, serta dominasi pola pikir negatif. Salah satu informan menunjukkan perilaku temperamental yang muncul secara tidak sadar akibat sering menyaksikan konflik antara orang tua. Perkembangan kognitif remaja perempuan broken home tidak memperoleh dukungan optimal dari orang tua, baik dalam bentuk dukungan moral maupun material. Pengaruh lingkungan dan keluarga terhadap interaksi remaja perempuan broken home menunjukkan dampak positif dan negatif. Dampak positif meliputi meningkatnya kemandirian, kemampuan menjadi lebih ceria dalam situasi tertentu, serta kedewasaan emosional akibat refleksi dari permasalahan keluarga. Dampak negatif meliputi kecemasan berlebih, kesulitan menjalin pertemanan, perilaku menyimpang, serta kecenderungan melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm).