Komodifikasi Kemiskinan dalam Acara Televisi : Analisisi Semiotika John Fiske Mengenai Komodifikasi Kemiskinan dalam Program "Indonesiaku" Episode Impian Warga Di Pelosok Cianjur di Trans7
Cara Mengutip APA 7th
Gunakan format ini untuk referensi akademik
Fadilah, R., Latifah, H., & Firmansyah, F. (2024). Komodifikasi Kemiskinan dalam Acara Televisi : Analisisi Semiotika John Fiske Mengenai Komodifikasi Kemiskinan dalam Program "Indonesiaku" Episode Impian Warga Di Pelosok Cianjur di Trans7 [Undergraduate thesis, Universitas Garut]. https://lib.fkominfo.uniga.ac.id/thesis/cms8n9ic702dmknnm0pcbkyxq/komodifikasi-kemiskinan-dalam-acara-televisi-analisisi-semiotika-john-fiske-mengenai-komodifikasi-kemiskinan-dalam-progr
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tayangan dokumenter Indonesiaku di stasiun televisi Trans7, yang menyoroti masih banyaknya persoalan pemerataan pembangunan yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Program ini secara gamblang mendeskripsikan problematika sosial yang tersembunyi di balik kekayaan alam Indonesia. Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji fenomena komodifikasi kemiskinan dalam industri pertelevisian, di mana kemiskinan digambarkan sebagai masalah kompleks yang dipengaruhi oleh faktor pendapatan, pendidikan, lokasi geografis, gender, dan lingkungan. Kondisi ini merepresentasikan realitas rentannya masyarakat yang berada di ambang batas garis kemiskinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berlandaskan paradigma konstruktivisme, dengan menggunakan pisau analisis teori semiotika model John Fiske. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan narasumber, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam program Indonesiaku episode tersebut, terdapat adegan-adegan (scenes) yang merepresentasikan praktik komodifikasi kemiskinan, yang dapat dibedah melalui tiga level kode televisi John Fiske. Pertama, pada level realitas, kode-kode yang ditonjolkan meliputi visualisasi kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi serta kondisi infrastruktur yang tertinggal, yang membatasi akses masyarakat terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Kedua, pada level representasi, realitas tersebut didramatisasi menggunakan teknik penyuntingan (editing) audiovisual dan instrumen musik bernuansa sedih guna memanipulasi dan menggugah emosi pemirsa. Ketiga, pada level ideologi, tayangan ini secara kental merepresentasikan bekerjanya ideologi patriarki dan kapitalisme, di mana penderitaan kelas bawah dikonversi menjadi komoditas tontonan demi meraup keuntungan ekonomi bagi industri media.
Kata Kunci
File Skripsi
Beberapa file dibatasi. Hubungi perpustakaan untuk akses ke bab yang dibatasi.